ABSTRAK
Banyak
orang tua, guru dan masyarakat menganggap bahwa Taman Kanak-kanak merupakan lembaga yang hanya menyiapkan anak masuk
Sekolah Dasar. Sehingga, proses pembelajaran sebatas
pengembangan kemampuan membaca, menulis dan menghitung, sehingga kesempatan meningkatkan kemampuan sosial terabaikan.
Kemampuan sosial pada anak perlu digali dan
ditumbuhkembangkan dengan cara memperbaiki materi dan metode pembelajaran yang diberikan guru. Bermain peran merupakan metode
pembelajaran yang memberikan kesempatan anak
untuk mengembangkan imajinasinya, serta berlatih bersosialisasi, berkomunikasi
dan
berempati dengan anak-anak lain.
Penelitian bertujuan: 1) Untuk mengetahui perbedaan kemampuan sosial antara anak yang diberikan perlakuan
bermain peran dan anak yang tidak diberikan perlakuan bermain
peran 2) Untuk mengetahui bagaimana pengaruh bermain peran dan tidak bermain peran terhadap kemampuan sosial anak.
Pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen kuasi
(semu). Sampel penelitian 40 anak TK B. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan
bermain peran dan tanpa diberikan perlakuan bermain peran nilai Mann-Whitney U sebesar 1.000 dan nilai
Wilcoxon W sebesar 211.00, nilai signifikansinya sebesar
0.000. Karena nilai probabilitas jauh lebih kecil dari taraf signifikan 0,05 atau (0.000 < 0.05), maka kelompok eksperimen
dengan perlakuan bermain peran jauh lebih baik dibanding kelompok kontrol yang tanpa perlakuan bermain
peran terhadap kemampuan sosial anak usia
dini.
PENDAHULUAN
Pada masa anak-anak awal
merupakan masa peka pada anak, anak sensitive untuk menerima berbagai
rangsangan sebagai upaya untuk mengembangkan seluruh potensi dalam diri anak.
Masa anak-anak awal merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam
mengembangkan kemampuan kognitif, bahasa, sosial-emosional, fisik motorik baik
motorik halus maupun kasar, konsep diri, disiplin, seni serta nilai
moral dan agama. Sekolah merupakan salah satu tempat yang tepat untuk
mengembangkan kemampuan yang dimiliki anak yang dibawa. sejak anak lahir.
Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mendidik seseorang untuk
dapat mempelajari bidang tertentu secara formal. Sementara itu, di dalam
kehidupan ada berbagai lembaga pendidikan informal untuk mendidik
seseorang menjadi mandiri, berdaya guna dan berhasil.
Kemampuan
bersosialisasi perlu dimiliki sejak anak masih kecil sebagai suatu pondasi bagi
perkembangan kemampuan anak berinteraksi
dengan lingkungannya secara lebih luas. Ketidakmampuan anak berperilaku sosial
yang diharapkan lingkungannya, dapat berakibat
anak terkucil dari lingkungan, tidak terbentuknya kepercayaan pada diri
sendiri, menarik diri dari lingkungan, dan sebagainya. Akibatnya anak akan
mengalami hambatan dalam perkembangan selanjutnya.
Taman Kanak-Kanak
bukan merupakan sekolah, seperti halnya Sekolah Dasar (SD) yang menjadikan
calistung (baca, tulis, hitung) sebagai tujuan utama dalam pembelajaran, tetapi merupakan tempat yang menyenangkan
bagi anak usia Taman Kanak-Kanak. Taman Kanak-Kanak adalah tempat bermain
sambil belajar bagi anak-anak dan tempat yang disukai oleh anak- anak. Pada
kenyataannya, tidak sedikit yang
lebih mementingkan kemampuan kognitif anak tanpa memperhatikan kemampuan anak
yang lain. Tuntutan dari orangtua
yang menginginkan anaknya mampu calistung
mengakibatkan perkembangan anak yang
lain kurang mendapat perhatian. Guru dan orang tua lebih memperhatikan
kemampuan kognitif anak, sehingga guru dan orang tua kurang memperhatikan
perkembangan anak yang lain, seperti : perkembangan sosial, bahasa, fisik baik
fisik motorik halus maupun kasar, nilai agama dan moral, dan perkembangan seni,
seharusnya guru dan orangtua menyeimbangkan antara kemampuan kognitif serta
kemampuan lain yang dimiliki anak karena setiap kemampuan yang dimiliki anak
memiliki keterkaitan dengan kemampuan lain yang dimiliki oleh anak.
Manusia
terlahir sebagai mahluk sosial, mahluk sosial yang memerlukan kehadiran orang
lain, manusia berhubungan dengan orang di sekitarnya dan cara manusia
berhubungan dengan lingkungannya disebut sosialisasi. Dalam melakukan
hubungan dengan orang atau manusia di sekitarnya atau di lingkungannya manusia
akan mengalami yang namanya perkembangan sosial. Perkembangan sosial merupakan
proses belajar menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok bekerja sama dan
adat kebiasaan, belajar bekerja sama, saling berhubungan dan merasa bersatu
dengan orang-orang di sekitarnya.
Pada dasarnya
anak usia TK memiliki keinginan yang kuat untuk dapat diterima oleh
kelompoknya. Anak akan terus berusaha untuk dapat bergabung dan diakui oleh
kelompok sebayanya. Bila anak itu tidak diakui oleh kelompoknya, maka anak
akan mencari cara lain untuk dapat diterima dalam kelompok sebaya tersebut.
Keinginan yang kuat pada anak untuk diakui menuntut sejumlah kemampuan sosial yang perlu
dimilikinya. Tidak semua anak mampu menunjukkan perilaku sosial seperti yang
diharapkan, dan tidak semua anak mampu berinteraksi dengan kelompoknya secara baik.
Kemampuan
bersosialisasi pada anak usia Taman Kanak-kanak memiliki arti kemampuan anak
untuk mencapai perilaku yang sesuai dengan lingkungan sosial. Pada umumnya, perkembangan sosial anak
usia dini yaitu : sudah dapat mengontrol dirinya sendiri, sudah dapat merasakan
kelucuan misalnya ikut tertawa ketika orang dewasa tertawa atau ada hal-hal yang lucu. Rasa takut dan
cemas mulai berkembang, dan hal ini akan berlangsung sampai usia 5 tahun.
Keinginan untuk berdusta mulai muncul, akan tetapi anak takut untuk melakukannya. Anak sudah dapat
mempelajari mana yang benar dan salah dan mampu menenangkan diri. Pada usia
ini, anak-anak mulai mengungkapkan pilihan atas anak-anak yang akan jadikan
sebagai teman bermain dan anak-anak yang tidak mereka suka menjadi teman bermain. Para guru perlu
mengetahui struktur hubungan sosial
yang terjadi di antara anak-anak di ruang kelas.
Peran guru sangat diperlukan untuk membantu anak-anak memahami perasaan
anak-anak lain dan mengembangkan rasa hormat terhadap orang lain.
Proses
pembelajaran di TK hendaknya diselenggarakan secara menyenangkan, inspiratif,
menantang, memotivasi anak untuk berpartisipasi aktif memberi kesempatan untuk
berkreasi dan kemandirian sesuai dengan tahap perkembangan fisik dan psikis
anak. Oleh karena itu upaya meningkatkan kemampuan bersosialisasi anak sangat
penting. Pendidikan merupakan suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi
tanpa interaksi antar pribadi. Belajar merupakan proses pribadi dan juga proses
sosial ketika anak berhubungan dengan anak lainnya
dalam membangun pengertian dan pengetahuan bersama. Sebagai salah satu upaya
mengembangkan kemampuan bersosialisasi anak TK, guru dapat menggunakan metode
bermain peran. Dengan metode bermain peran diharapkan dapat mengembangkan
interaksi sosial anak tentunya dengan menggunakan strategi, materi dan media
yang menarik sehingga mudah diikuti oleh anak, karena dengan bermain peran anak akan memiliki kesempatan
menjadi pribadi yang lain dari dirinya, maupun tokoh yang diinginkan.
Bermain peran
mulai tampak sejalan dengan tumbuhnya kemampuan anak untuk berpikir simbolik. Dalam
bermain peran bersama teman-teman sebaya akan menjadi tonggak penting dalam
perkembangan sosial anak. Melalui kegiatan sosial diharapkan sifat egosentrisme
anak akan semakin berkurang, dan anak secara bertahap berkembang menjadi mahluk
sosial yang dapat bergaul dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya.
Kegiatan bermain peran ditandai dengan adanya interaksi dengan orang di
sekeliling anak, sehingga akhirnya anak mampu terlibat dalam kerjasama dalam
bermain. Metode bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan
pelajaran melalui pengembangan dan penghayatan anak didik. Bermain peran
termasuk salah satu jenis bermain
aktif, yang diartikan sebagai pemberian atribut tertentu terhadap benda,
situasi dan anak memerankan tokoh yang dipilih. Perilaku yang dilakukan anak
ditampilkan dalam setiap tingkah laku yang nyata dan dapat diamati dan biasanya melibatkan penggunaan bahasa. Anak melakukan
impersonalisasi terhadap karakter yang dikaguminya atau ditakutinya baik yang ia temui dalam kehidupan
sehari-hari maupun dari tokoh yang ia tonton di film. Misalnya peran sebagai
pedagang. Anak harus mampu berperan
sebagai pedagang sebagaimana yang ia
lihat di sekitarnya, misalnya di pasar. Ataupun sebagai pembeli. Melalui peran sebagai pedagang, anak harus dapat
berinteraksi dengan orang-orang yang datang untuk membeli dagangannya. Sebagai
pedagang harus mampu menawarkan dagangannya
sehingga pembeli tertarik untuk membeli dagangannya.
Kegiatan
bermain peran jarang dilakukan di TK
Permata Kecamatan Rungkut Surabaya. Para guru biasanya hanya mengobservasi anak yang sedang bermain peran ketika jam istirahat berlangsung, dan tidak pernah
memasukkan kegiatan bermain peran
ini dalam program pembelajaran. Kalaupun ada, penerapan kegiatan bermain peran di TK lebih dominan
dilakukan hanya untuk bermain peran
dengan ukuran sebenarnya, seperti
anak yang memakai baju dokter atau
anak yang berperan sebagai guru. Kegiatan bermain peran ini tampak lebih efektif
untuk digunakan sebagai kegiatan yang dapat meningkatkan keterampilan sosial
dan keterampilan berbicara, karena dengan bermain peran melibatkan beberapa
anak untuk berinteraksi dan berbicara satu sama lain.
Sejak
anak-anak usia TK masalah- masalah bersosialisasi sudah dapat diidentifikasikan dari
berbagai perilaku yang ditampakkan anak, diantaranya anak selalu ingin menang
sendiri, bersikap agresif, cepat marah, setiap keinginannya selalu harus dituruti, membangkang bahkan menarik
diri
dari lingkungannya serta tidak mau bergaul dengan teman-temannya.
Berdasarkan observasi awal yang dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru bulan oktober 2014 di TK Permata Kecamatan Rungkut Surabaya,
terutama pada anak TK kelompok A, ditemukan rata-rata kemampuan sosial anak masih sangat rendah, hal ini bisa dilihat
ketika anak belum menunjukkan sikap mandiri dalam kegiatan, belum mau berbagi
dan membantu teman, belum
menunjukkan antusiasme dalam melakukan permainan, belum mampu kerjasaman dan ,
belum mampu mengendalikan perasaan, menghargai orang lain dan belum bisa menunjukkan rasa percaya diri,
hal ini akan berpengaruh pada perkembangan sosialnya.
Permasalahan-permasahan
di atas, disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: pembelajaran yang kurang
bervariasi, tahapan bermain anak menurut Kurniawati (2008) pada usia 2-4 tahun
ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura, akan tetapi tahapan
bermain tersebut di kelompok A belum berkembang dan belum terstimulus secara
optimal, perkembangan anak pada usia ini masih bersifat egosentris seperti
berebut mainan, dan ingin mendapatkan perhatian guru untuk dirinya sendiri baik
guru maupun teman.
Mencermati
fenomena seperti di atas, maka
dicoba untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi anak melalui metode bermain
peran sebagai upaya meningkatkan kemampuan bersosialisasi anak
sehingga mereka memperoleh sesuatu yang bermakna bagi anak. Bermain peran dapat
dilakukan dalam berbagai macam peranan. Seseorang dapat memerankan berbagai
peran dalam satu harinya, misalnya sebagai seorang guru, penjual, pembeli, dan sebagainya.
Pada setiap peranan tersebut seorang anak harus dapat berperilaku sesuai dengan peran
yang dilakukannya. Metode bermain peran biasanya menyampaikan
suatu masalah sebelum memberikan pemecahan atas masalah itu. Anak-anak yang memainkan
peran itu menunjukkan apa yang akan mereka lakukan, bagaimana reaksi mereka
terhadap suatu kejadian atau situasi. Ketidakmampuan anak dalam bersosialisasi
akan mengakibat kan anak menjadi pemalu, kurang rasa percaya diri, tidak
mampu berkomuni kasi dengan teman, dan memiliki egoisme yang tinggi.
Sehubungan dengan itu penelitian ini perlu dilakukan dan hasil penelitian ini
akan memberikan informasi pada masyarakat dalam menyikapi anak kurang mampu
dalam bersosialisasi. Peneliti tertarik melakukan penelitian lebih lanjut untuk
mengetahui pengaruh penerapan metode bermain peran dalam meningkatkan kemampuan
bersosialisasi anak kelompok A di TK Permata Kecamatan Rungkut Surabaya.
PEMBAHASAN
Anak Usia Dini
Anak usia dini adalah
sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan
fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini berada pada
rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam
berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan
hidup manusia (Nurani 2009).
Anak usia dini adalah
sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan
fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini berada pada
rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangannya dalam
berbagai aspek sedang mengalami masa cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia (Berk, 1992). Proses
pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak harus memperhatikan karakteristik setiap tahap
perkembangan anak.
Montessori
dalam Seldin (2004) menyatakan bahwa pada
rentang usia lahir sampai 6 tahun
anak mengalami masa keemasan (the golden
year) yang merupakan masa di mana anak mulai peka/sensitif untuk menerima
berbagai rangsangan. Masa peka adalah
masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis, anak telah siap merespon
stimulasi yang diberikan oleh lingkungan.
Landasan Teori
1.
Konsep Metode
Bermain Peran
Metode
bermain peran ini dikategorikan sebagai metode belajar yang berumpun kepada metode
perilaku yang diterapkan dalam kegiatan pengembangan. Karakteristik nya adalah adanya
kecenderungan memecah kan tugas belajar dalam sejumlah perilaku yang berurutan, konkret
dan dapat diamati. Bermain
peran dikenal juga dengan sebutan bermain pura-pura, khayalan, fantasi, make belive, atau
simbolik. Menurut Piaget, awal main peran dapat menjadi bukti perilaku anak. Ia menyatakan
bahwa main peran ditandai oleh penerapan cerita pada objek dan mengulang perilaku
menyenangkan yang diingatnya. Piaget menyatakan bahwa keterlibatan anak dalam main peran
dan upaya anak mencapai tahap yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lainnya
disebut sebagai collective symbolism. Ia juga menerangkan percakapan lisan
yang anak
lakukan dengan diri sendiri sebagai idiosyncratic soliloquies.
2.
Kemampuan Sosial
Keterampilan sosial merupakan kebutuhan primer yang perlu dimiliki
anak-anak sebagai bekal bagi kemandirian pada jenjang kehidupan selanjutnya.
Hal ini bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga
maupun di lingkungan sekitarnya. Ahmad (Kurniati, 2016) menyebutkan bahwa
keterampilan sosial adalah kemampuan anak untuk mereaksi secara efektif dan
bermanfaat terhadap lingkungan sosial yang merupakan persyaratan bagi
penyesuaian sosial yang baik, kehidupan yang memuaskan, dan dapat diterima
masyarakat. Anak yang memiliki keterampilan sosial adalah anak yang menunjukkan
perilaku yang disetujui secara sosial oleh kelompoknya. Sedangkan menurut Yuspendi (Kurniati, 2016) keterampilan sosial adalah
keterampilan anak untuk dapat membina hubungan antarpribadi dalam beberapa
lingkungan kelompok sosial. Sebagai makhluk sosial, individu dituntut untuk
mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi
dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau
norma yang berlaku. Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk menguasai
keterampilan-keterampilan sosial dan penyesuaian diri terhadap lingkungan
sekitarnya (Thalib, 2017).
Keterampilan
sosial merupakan bentuk perilaku,
perbuatan dan sikap yang ditampilkan oleh individu ketika berinteraksi dengan
orang lain disertai dengan ketepatan dan kecepatan sehingga
memberikan kenyamanan bagi orang yang berada disekitarnya (Chaplin dalam Suhartini,
2004:18) Peningkatan
perilaku sosial cenderung paling menyolok pada masa kanak kanak awal. Hal ini
disebabkan oleh pengalaman
sosial yang semakin bertambah pada anak-anak mempelajari pandangan pihak lain terhadap
perilaku mereka dan bagaimana pemandangan tersebut mempengaruhi tingkatan penerimaan
dari kelompok teman sebaya, akan tetapi ada beberapa bentuk perilaku yang tidak sosial
atau anti sosial. Sejauh mana terjadinya peningkatan perilaku sosial akan bergantung
pada tiga hal. Pertama, seberapa kuat keinginan anak untuk di
terima secara sosial; kedua pengetahuan mereka tentang cara memperbaiki perilaku;
dan ketiga, kemampuan intelektual yang semakin berkembang yang memungkinkan pemahaman
hubungan antara perilaku mereka dengan penerimaan sosial.
Janice
J. Beaty (1998: 147) menyebutkan bahwa keterampilan sosial atau disebut juga prosocial
behavior mencakup
perilaku-perilaku seperti: (a) empati yang didalamnya anakanak mengekspresikan
rasa haru dengan memberikan perhatian kepada seseorang yang sedang
tertekan karena suatu masalah dan mengungkapkan perasaan orang lain yang sedang mengalami
konflik sebagai bentuk bahwa anak menyadari perasaan yang dialami orang lain; (b)
kemurahan hati atau kedermawanan
di dalamnya anak-anak berbagi dan memberikan suatu barang
miliknya pada seseorang; (c) kerjasama yang didalamnya anak-anak mengambil giliran
atau bergantian dan menuruti perintah secara sukarela tanpa menimbulkan
pertengkaran; dan (d) memberi bantuan yang di dalamnya anak-anak membantu
seseorang untuk melengkapi suatu tugas dan membantu seseorang
yang membutuhkan.
Yusuf (2007) menyatakan
bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan
social atau dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap
norma-norma kelompok, moral dan tradisi; meleburkan
diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja
sama. Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki
kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari
berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya. Kebutuhan
berinteraksi dengan orang lain telah dirasakan sejak usia 6 bulan, disaat itu mereka
telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai
mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang
mendengar suara keras) dan kasih sayang.
Menurut Ross-Krasnor
(Denham dkk, 2003) mendefinisikan kemampuan social sebagai keefektifan dalam
berinteraksi, hasil dari perilaku-perilaku yang teratur memenuhi kebutuhan
kebutuhan pada masa perkembangan dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang.
Bagi anak usia dini, perilaku
yang menunjukkan kemampuan sosial berkisar pada tugas-tugas utama perkembangan
yaitu menjalin ikatan positif dan self regulations selama berinteraksi dengan
teman sebaya. Dalam
pandangan teoritis kemampuan sosial, terdapat dua fokus pengukuran
yaitu pada diri atau orang lain, dalam hal ini adalah mengukur kesuksesan anak
dalam memenuhi tujuan pribadi atau hubungan interpersonal anak.
Menurut
Buzan (1997), kemampuan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam
pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang disekeliling
atau sekitarnya. Orang dengan kemampuan sosial tinggi tidak akan menemui kesulitan
saat memulai suatu interaksi dengan seseorang atau sebuah kelompok baik kelompok
kecil maupun besar. Ia dapat memanfaatkan dan menggunakan kemampuan otak dan bahasa
tubuhnya untuk “membaca” teman bicaranya. Kemampuan sosial dibangun antara lain
atas kemampuan inti untuk mengenali perbedaan, secara khusus perbedaan besar
dalam suasana hati, temperamen, motivasi, dan kehendak. Kemampuan sosial ini
juga mencakup kemampuan bernegoisasi, mengatasi segala konflik, segala
kesalahan, dan situasi yang timbul dalam proses negoisasi.
Dewasa
ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti karier di masyarakat, lembaga, atau perusahaan. Banyak orang
sukses, kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama,
berempati, dan pengendalian diri yang menonjol. Kesimpulan bahwa kemampuan
sosial adalah kapasitas seseorang dalam berkomunikasi, bergaul, bekerja sama,
dan memberi kepada orang lain. Jadi, kemampuan sosial adalah kemampuan anak
untuk mengajak maupun merespon teman-temannya dengan perasaan positif, tertarik
untuk berteman dengan teman temannya serta diperhatikan dengan baik oleh
mereka, dapat memimpin dan juga mengikuti, mempertahan kan sikap memberi dan
menerima dalam berinteraksi.
Faktor
– faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Sosial Anak
Nurfaizin
(1997), menyatakan bahwa kemampuan sosial anak dipengaruhi beberapa faktor,yaitu:
- Keluarga. Yakni lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya.
- Kematangan. Yakni fisik dan psikis sehingga mampu mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain, memerlukan kematangan intelek tual dan emosional, disamping itu kematangan dalam berbahasa juga sangat menentukan.
- Status Sosial Ekonomi. Yakni kehidupan sosial banyak dipenga ruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam masyarakat.
- Pendidikan. Yakni proses pengo perasian ilmu yang normatif, anak memberikan warna kehidupan sosial anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
- Kapasitas Mental. Yakni emosi dan Intelegensi. Kemampuan berfikir dapat mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi berpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial anak.
Cara
meningkatkan keterampilan sosial
Buzan
(1997), menyataan saat seseorang menunjukan tanda-tanda ketertarikan dan ingin
mengenal kita lebih dalam, kitapun dapat tertarik dan bersikap baik padanya.
Cara terbaik, termudah, dan paling efektif untuk menunjukan kita tertarik pada
sesorang adalah bersedia ‘mendengarkan’ apapun yang diucapkanya.
Mendengarkan disini berbeda dengan sekedar mendengar. Mendengarkan artinya kita
mendengarkan apa keluhannya, apa ide-idenya, harapan-harapannya, pera- saan-perasaan yang terlontarkan, bahkan juga
bahasa tubuhnya. Itulah yang dinamakan “mendengarkan aktif”. Ingatlah bahwa
kita dikaruniai satu mulut dan dua telinga, kita perlu cepat untuk mendengar
dan lambat berkatakata. Artinya, kita perlu lebih banyak mendengar daripada
berbicara.
Amstrong
(1993; 2002), kemampuan sosial melibatkan kemampuan untuk memahami dan
bekerjasama dengan orang lain. Kemampuan ini melibatkan banyak kecakapan, yakni
kemampuan berempati pada orang lain, kemampuan berorganisasi sekelompok orang
menuju ketujuan bersama, kemampuan mengenali dan membaca pikiran orang lain, kemampuan berteman atau menjalin
kontak. Sedangkan, Gardner (1993), kemampuan sosial dibangun, antara lain, oleh
kemampuan inti untuk mengenali perbedaan, khususnya perbedaan besar dalam
suasana hati, temperamen, motivasi, dan intensi (maksud).
Isenberg
& Jalongo (1993), mengatakan bahwa kemampuan sosial dapat diasah melalui
bermain. Selama bermain itu, anak-anak berinteraksi dengan sebaya dan guru
mereka. Pengasahan itu terjadi karena anak:
1. Mempraktekkan
keterampilan berkomuni- kasi baik verbal maupun nonverbal dengan cara
menegosiasikan peran, mencoba memperoleh keuntungan saat bermain atau mengapresiasikan perasaan teman lain;
2. Merespon
perasaan teman sepermainan di samping menunggu giliran dan berbagi materi dan
pengalaman;
3. Bereksperimen
dengan peran-peran di rumah, sekolah dan komunitas dengan menjalin kontak
dengan kebutuhan dan kehendak orang lain;
4. Mencoba
melihat sudut pandang orang lain. dengan konflik tentang ruang, waktu, materi,
dan aturan, mereka membangun strategi resolusi konflik secara positif.
Anak yang
cerdas dalam sosial pandai mengorganisasi teman-teman mereka dan pandai mengkomuni
kasikan keinginannya pada orang lain. Mereka sering menjadi pemimpin di antara
teman-temannya. Mereka memiliki kemahiran mendamaikan konflik dan menyelaraskan
perasaan orang-orang yang terlibat konflik. Mereka mudah mengerti sudut pandang
orang lain, dan dengan relatif akurat, mampu menebak suasana hati dan motivasi
pribadi orang lain. Selain itu, menurut Schmidt (2001), anak-anak yang cerdas
secara interpersonal merupakan individu yang cinta damai. Mereka adalah
pengamat dan motivator yang baik.
Amstrong
(1993), menyatakan anak-anak yang cerdas dalam sosial akan mempunyai banyak
teman. Mereka juga mudah bersosialisasi serta senang terlibat dalam kegiatan
atau kerja kelompok. Mereka menikmati permainan-permainan
yang dilakukan secara berpasangan atau berkelompok. Mereka suka memberikan apa
yang dimiliki dan diketahui kepada orang lain. Mereka tampak menikmati ketika
mengajari teman sebaya mereka tentang sesuatu, seperti membuat gambar, memilih
warna, atau bahkan cara bersikap.
Karl
Albrecht (2001), menyebut adanya lima elemen kunci yang bisa mengasah kemampuan
sosial yaitu (1) Situational awareness, (2) Presense, (3) Authenticity,
(4) clarity dan (5) empathy , yang ia singkat menjadi kata SPACE. Elemen
pertama ialah kata S merujuk pada kata situational awareness (kesadaran
situasional). Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa
memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Orang yang tanpa rasa
dosa mengeluarkan merokok di ruang AC atau di ruang terbuka dan menghembus- kan asap
secara serampangan pada semua orang disekitarnya pastilah bukan tipe orang yang
paham akan makna kesadaran situasional. Elemen
yang kedua adalah presense (kemampuan membawa diri). Bagaimana
etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang Anda bentangkan, gerak tubuh
ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen
ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense
yang dihadirkannya. Anda mungkin bisa mengingat siapa rekan atau atasan
anda yang memiliki kualitas presense yang baik dan mana yang buruk. Elemen
yang ketiga adalah authenticity (autensitas) atau sinyal dari perilaku kita yangakan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini amat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa membentangkan
berjejak relasi yang mulia nan bermartabat. Elemen
yang keempat adalah clarity (kejelasan) yakni sejauh mana kita
dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide kita secara renyah nan
persuasif sehingga orang lain bisa menerimanya dengan
tangan terbuka. Acap kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal
mengkomunikasikannya secara cantik sehingga atasan atau rekan kerja kita tidak berhasil diyakinkan. Elemen yang terakhir adalah empathy (empati). Aspek ini
merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang
lain.
Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian
eksperimen kuasi (semu), dimaksudkan untuk mengetahui dan meneliti peningkatan
kemampuan social anak usia dini di TK Aisyiyah 6 Tanggulangin, baik bagi mereka
yang tidak diberikan perlakuan maupun bagi mereka yang diberikan perlakuan
yakni perlakuan bermain peran. Rancangan eksperimen ini bertipe kelompok paralel,
yaitu eksperimen yang mengenal dua kelompok, satu diantaranya diberikan perlakuan eksperimen. Dua
kelompok dianggap sama dalam semua aspek yang relevan dan perbedaan hanya
terdapat dalam perlakuan. Dalam pola ini baik kelompok eksperimen maupun kelompok
pembanding dikenakan tes sebelum dan sesudah diberikan perlakuan (treatmen),
tapi hanya kelompok eksperimen yang mendapat pelakuan, Menurut Sukmadinata
(2006) dengan
struktur desainnya yang telah dimodifikasi oleh peneliti sehingga menjadi
sebagai berikut:
Tabel 1. Prates dan Pasca Tes Kelompok Eksperimen dan Kontrol
|
Kelompok
|
Pra Tes
|
Perlakuan
|
Pasca Tes
|
|
E(eksperimen)
|
T1
|
X
|
T2
|
|
C(kontrol)
|
T1
|
-
|
T2
|
Dengan pola ini pengaruh perlakuan X diamati dalam
situasi yang lebih terkontrol yaitu dengan membandingkan selisih T1 – T2 pada
kelompok eksperimen dengan selisih T1 – T2 pada kelompok pembanding. Populasi
adalah keseluruhan atau totalitas objek yang diteliti yang ciri-ciri
(parameternya) akan diduga atau ditaksir (estimated). Populasi dalam
penelitian ini adalah anak usia dini di TK Aisyiyah 6 Tanggulangin, 40 anak
yang terbagi dalam dua kelas kelompok B. Sampel adalah bagian dari populasi
yang menjadi objek penelitian. Tujuan pengambilan sampel dapat dapat memberikan
informasi yang cukup untuk dapat mengestimasi jumlah populasinya. Adapun teknik sampel yang digunakan adalah teknik random
sampling sehingga ditarik sampel dengan cara undian didapatlah sebanyak 20
orang anak untuk kelompok eksperimen (B1) dan 20 orang anak untuk kelompok
kontrol (B2). Adapun definisi secara operasional terhadap penelitian di atas
adalah sebagai berikut:
1. Bermain peran adalah salah satu metode yang memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan imajinasinya dalam memerankan seorang tokoh agar mereka menghayati sifat dari tokoh atau benda.
2. Kemampuan sosial adalah kemampuan anak untuk mengajak maupun merespon teman-temannya dengan perasaan positif, tetarik untuk berteman dengan teman temannya serta diperhatikan dengan baik
oleh mereka, dapat
memimpin dan juga mengikuti, mempertahankan sikap memberi dan menerima dalam
berinteraksi.
Teknik yang dipakai dalam
pengumpulan data penelitian ini adalah:
1. Observasi digunakan untuk
mengamati secara langsung segala aktivitas anak usia dini selama proses
penelitian berlangsung baik sebelum maupun sesudah pemberian perlakuan bermain peran.
2. Tes kemampuan sosial
buatan peneliti digunakan untuk mendapat kan data tentang pengembangan kemampuan sosial
anak usia dini, baik sebelum maupun sesudah diberikan perlakuan berupa
perlakuan bermain peran.
3. Angket dimaksudkan adanya
data dari beberapa pihak baik tentang signifikansi stimuli sebelum maupun sesudah pemberian perlakuan bermain peran.
Adapun angket ini menggunakan pendekatan skala
likert dengan lima ketegori
dengan pemberian bobot nilai. Penentuan
kriteria/ kategori tingkat penguasaan atau kemampuan sosial anak usia dini pada saat diberikan
perlakuan bermain peran dan tidak diberikan perlakuan sebagai berikut:
a. Nilai 0-3,4 kategori
sangat rendah (SR)
b. Nilai 3,5-5,4 kategori
rendah (R)
c. Nilai 5,5-6,4 kategori
sedang (S)
d. Nilai 6,5-8,4 kategori
tinggi (T)
e. Nilai 8,5-10,0 kategori
sangat tinggi (ST).
Adapun
instrumen tes yang digunakan terdiri dari tes perlakuan dengan memberikan
pembelajaran dengan bermain peran
terhadap kemampuan sosial anak. Teknik analisis data yang
digunakan adalah analisis deskriptif-kuantitatif
dengan perhitungan distribusi frekuensi dan persentase melalui tabel skor
yang diperoleh responden selama penelitian dengan tujuan mengetahui gambaran kemampuan
sosial anak usia dini melalui pembelajaran bermain peran dan metode pembelajaran
tanpa bermain peran yang hanya bermain sambil belajar selama proses pembelajaran berlangsung,
dengan melihat Statistik ukuran pemusatan yaitu rata-rata mean, dan ukuran penyebaran yaitu standar
deviasi, nilai minimum dan maksimum kemudian dilanjutkan dengan distribusi
frekuensi dan persentase. Untuk mengetahui besarnya pengaruh antara metode
pembelajaran bermain peran untuk kelompok eksperimen dan metode pembelajaran
tanpa bermain peran dengan hanya bermain sambil belajar sebagai kelompok
kontrol terhadap kemampuan sosial anak usia dini di TK Aisyiyah 6 Tanggulangin. Karena data
ini tergolong sedikit dan hanya berdistribusi bebas, maka digunakan uji non
parametrik dengan teknik analisis uji
Mann- Whitney Test dengan melihat dua sisi pengaruh antara anak usia dini
yang diberikan perlakuan bermain peran kemudian dibandingkan kemampuan sosial
anak usia dini yang tidak diberi perlakuan bermain peran, dengan asumsi bahwa
jika terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan sosial pada kelompok
eksperimen yang diberikan perlakuan dan kelompok kontrol yang tidak diberikan
perlakuan, maka perbedaaan itu dianggap sebagai pengaruh dari perlakuan yang
diberikan. dan semua ini akan terangkum dalam program SPSS 15, dengan taraf
signifikan 0,05%.
Sebelum
dilakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian
normalitas data menurut Santoso, 2006 (dalam Sujianto, 2007: 72), normalitas
data bisa dideteksi dari rasio skewness,
rasio kurtosis, histogram, Kolmogorov-Smirnov pada setiap variabel,
sedangkan pengujian outokorelasi menggunakan korelasi bivariate pearson, dan jika kedua
pengujian tersebut terpenuhi maka selanjutnya pengujian linieritas data dengan
menggunakan gambar linieritas dengan chart
P- Plot.
Hasil analisis deskriptif dan analisis uji Mann-Whitney Test tersebut di
atas dapat ditelusuri beberapa permasalahan sehingga olahan data yang tersedia
dan dihubungkan dengan teori melalui analisis kuantitatif. Dari hasil olahan data seperti yang dikemukakan pada bagian sebelumnya, diperoleh informasi bahwa metode pembelajaran bermain peran yang dilakukan anak usia dini terhadap kemampuan
sosialnya sangat tinggi.
Sejalan dengan teori Ross-Krasnor (Denham dkk, 2003) mendefinisikan
kemampuan sosial sebagai keefektifan dalam berinteraksi, hasil dari perilaku-perilaku
yang teratur memenuhi kebutuhan-kebutuhan pada masa perkembangan dalam jangka
pendek maupun dalam jangka panjang. Bagi anak usia dini, perilaku yang menunjukkan
kemampuan sosial berkisar pada tugas-tugas utama perkembangan yaitu menjalin
ikatan positif dan self
regulations selama berinteraksi
dengan teman sebaya. Dalam pandangan teoritis kemampuan sosial, terdapat dua fokus pengukuran
yaitu pada diri atau orang lain, dalam hal ini adalah mengukur kesuksesan anak
dalam memenuhi tujuan pribadi atau hubungan interpersonal anak.
Berdasarkan teori tersebut di atas dapat melahirkan implikasi teoritis bahwa pengetahuan sosial, rasa empati dan rasa percaya diri anak-anak menjadi terukur. Anakanak yang memiliki pengetahuan
sosial yang tinggi cenderung mudah memahami perasaan orang lain. Mereka sering
menjadi pemimpin di antara teman-temannya. Anak yang cerdas dalam sosial pandai
mengorganisasi teman-teman mereka dan pandai mengkomunikasikan keinginannya
pada orang lain. Mereka memiliki kemahiran mendamaikan konflik dan menyelaraskan perasaan orang-orang yang terlibat konflik. Mereka mudah mengerti sudut pandang orang lain, dan dengan relatif akurat, mampu menebak suasana hati dan motivasi pribadi orang lain. Sejalan
dengan teori Schmidt (2001), anak-anak yang cerdas secara interpersonal
merupakan individu yang cinta damai. Mereka adalah pengamat dan motivator yang
baik. Selanjutnya pendapat Amstrong (1993), anak-anak yang cerdas dalam sosial
mempunyai banyak teman. Mereka juga mudah bersosia- lisasi serta senang
terlibat dalam kegiatan atau kerja kelompok. Mereka menikmati
permainan-permainan yang dilakukan secara berpasangan atau berkelompok. Mereka
suka memberi kan apa yang dimiliki dan diketahui kepada orang lain, termasuk
masalah ilmu dan informasi. Mereka tampak menikmati ketika mengajari teman sebaya
mereka tentang sesuatu, seperti membuat gambar, memilih warna, atau bahkan cara
bersikap sehingga nampak kepercayaan diri anakpun semakin lebih baik.
Kesimpulan
Penelitian
tentang penerapan metode bermain peran untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi
pada pendidikan anak usia dini adalah salah satu penelitian yang penting untuk
diterapkan, karena keterampilan hidup yang mendasar dan perlu dilatih semenjak
usia dini bagi setiap individu. Perkembangan sosial anak ditandai oleh
kemampuan dalam menyesuaikan diri dan mengembangkan tingkah laku sosialnya
sehingga dapat bersosialisasi dengan baik.
Selain
itu, kelompok eksperimen dengan perlakuan bermain peran jauh lebih baik
dibanding kelompok kontrol yang tanpa perlakuan bermain peran terhadap
kemampuan sosial anak usia dini di taman kanak- kanak (TK).
Saran
Bagi
para pengajar ada banyak metode pembelajaran yang berkembang saat ini yang bisa diterapkan
di sebuah lembaga pendidikan untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi namun kesiapan
untuk menerapkan sebuah metode belajar terutama metode bermain peran harus
sangat diperhatikan karena penerapan metode belajar yang kurang maksimal
berdampak pada hasil yang kurang optimal pada anak. Persiapan ini meliputi
kecakapan dari guru untuk menerapkan metode ini dengan prosedur yang sesuai. Selain itu, metode pembelajaran
bermain peran banyak memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan sosial anak
usia dini, untuk itu diharapkan para pembina dan para guru taman kanak-kanak
dapat menerapkan metode pembelajaran bermain peran dalam mengaplikasikan saat
proses pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Choirun Nisak Aulina. “PENGARUH
BERMAIN PERAN TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL ANAK USIA DINI.” 2014
1, no. 1 (n.d.): 14–27.
Listya
Istiningtyas, Alhamdu, Chintia Viranda. “BERMAIN PERAN (ROLE PLAY) DAN
PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK USIA DINI.” 2019 8, no. 1 (n.d.):
1–8.
Rr.
Amanda Pasca Rini, Nurul Aida. “PENERAPAN METODE BERMAIN PERAN UNTUK
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERSOSIALISASI PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI.” 2015
4, no. 01 (n.d.): 87–99.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar