Kamis, 07 Mei 2020

PENGARUH BERMAIN PERAN TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL ANAK USIA DINI


ABSTRAK
Banyak orang tua, guru dan masyarakat menganggap bahwa Taman Kanak-kanak merupakan lembaga yang hanya menyiapkan anak masuk Sekolah Dasar. Sehingga, proses pembelajaran sebatas pengembangan kemampuan membaca, menulis dan menghitung, sehingga kesempatan meningkatkan kemampuan sosial terabaikan. Kemampuan sosial pada anak perlu digali dan ditumbuhkembangkan dengan cara memperbaiki materi dan metode pembelajaran yang diberikan guru. Bermain peran merupakan metode pembelajaran yang memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan imajinasinya, serta berlatih bersosialisasi, berkomunikasi dan berempati dengan anak-anak lain. Penelitian bertujuan: 1) Untuk mengetahui perbedaan kemampuan sosial antara anak yang diberikan perlakuan bermain peran dan anak yang tidak diberikan perlakuan bermain peran 2) Untuk mengetahui bagaimana pengaruh bermain peran dan tidak bermain peran terhadap kemampuan sosial anak. Pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen kuasi (semu). Sampel penelitian 40 anak TK B. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan bermain peran dan tanpa diberikan perlakuan bermain peran nilai Mann-Whitney U sebesar 1.000 dan nilai Wilcoxon W sebesar 211.00, nilai signifikansinya sebesar 0.000. Karena nilai probabilitas jauh lebih kecil dari taraf signifikan 0,05 atau (0.000 < 0.05), maka kelompok eksperimen dengan perlakuan bermain peran jauh lebih baik dibanding kelompok kontrol yang tanpa perlakuan bermain peran terhadap kemampuan sosial anak usia dini.

PENDAHULUAN

Pada masa anak-anak awal merupakan masa peka pada anak, anak sensitive untuk menerima berbagai rangsangan sebagai upaya untuk mengembangkan seluruh potensi dalam diri anak. Masa anak-anak awal merupakan masa untuk meletakkan dasar pertama dalam mengembangkan kemampuan kognitif, bahasa, sosial-emosional, fisik motorik baik motorik halus maupun kasar, konsep diri, disiplin, seni serta nilai moral dan agama. Sekolah merupakan salah satu tempat yang tepat untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki anak yang dibawa. sejak anak lahir. Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mendidik seseorang untuk dapat mempelajari bidang tertentu secara formal. Sementara itu, di dalam kehidupan ada berbagai lembaga pendidikan informal untuk mendidik seseorang menjadi mandiri, berdaya guna dan berhasil.
Kemampuan bersosialisasi perlu dimiliki sejak anak masih kecil sebagai suatu pondasi bagi perkembangan kemampuan anak berinteraksi dengan lingkungannya secara lebih luas. Ketidakmampuan anak berperilaku sosial yang diharapkan lingkungannya, dapat berakibat anak terkucil dari lingkungan, tidak terbentuknya kepercayaan pada diri sendiri, menarik diri dari lingkungan, dan sebagainya. Akibatnya anak akan mengalami hambatan dalam perkembangan selanjutnya.
Taman Kanak-Kanak bukan merupakan sekolah, seperti halnya Sekolah Dasar (SD) yang menjadikan calistung (baca, tulis, hitung) sebagai tujuan utama dalam pembelajaran, tetapi merupakan tempat yang menyenangkan bagi anak usia Taman Kanak-Kanak. Taman Kanak-Kanak adalah tempat bermain sambil belajar bagi anak-anak dan tempat yang disukai oleh anak- anak. Pada kenyataannya, tidak sedikit yang lebih mementingkan kemampuan kognitif anak tanpa memperhatikan kemampuan anak yang lain. Tuntutan dari orangtua yang menginginkan anaknya mampu calistung mengakibatkan perkembangan anak yang lain kurang mendapat perhatian. Guru dan orang tua lebih memperhatikan kemampuan kognitif anak, sehingga guru dan orang tua kurang memperhatikan perkembangan anak yang lain, seperti : perkembangan sosial, bahasa, fisik baik fisik motorik halus maupun kasar, nilai agama dan moral, dan perkembangan seni, seharusnya guru dan orangtua menyeimbangkan antara kemampuan kognitif serta kemampuan lain yang dimiliki anak karena setiap kemampuan yang dimiliki anak memiliki keterkaitan dengan kemampuan lain yang dimiliki oleh anak.
Manusia terlahir sebagai mahluk sosial, mahluk sosial yang memerlukan kehadiran orang lain, manusia berhubungan dengan orang di sekitarnya dan cara manusia berhubungan dengan lingkungannya disebut sosialisasi. Dalam melakukan hubungan dengan orang atau manusia di sekitarnya atau di lingkungannya manusia akan mengalami yang namanya perkembangan sosial. Perkembangan sosial merupakan proses belajar menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok bekerja sama dan adat kebiasaan, belajar bekerja  sama, saling berhubungan dan merasa bersatu dengan orang-orang di sekitarnya.
Pada dasarnya anak usia TK memiliki keinginan yang kuat untuk dapat diterima oleh kelompoknya. Anak akan terus berusaha untuk dapat bergabung dan diakui oleh kelompok sebayanya. Bila anak itu tidak diakui oleh kelompoknya, maka anak akan mencari cara lain untuk dapat diterima dalam kelompok sebaya tersebut. Keinginan yang kuat pada anak untuk diakui menuntut sejumlah kemampuan sosial yang perlu dimilikinya. Tidak semua anak mampu menunjukkan perilaku sosial seperti yang diharapkan, dan tidak semua anak mampu berinteraksi dengan kelompoknya secara baik.
Kemampuan bersosialisasi pada anak usia Taman Kanak-kanak memiliki arti kemampuan anak untuk mencapai perilaku yang sesuai dengan lingkungan sosial. Pada umumnya, perkembangan sosial anak usia dini yaitu : sudah dapat mengontrol dirinya sendiri, sudah dapat merasakan kelucuan misalnya ikut tertawa ketika orang dewasa tertawa atau ada hal-hal yang lucu. Rasa takut dan cemas mulai berkembang, dan hal ini akan berlangsung sampai usia 5 tahun. Keinginan untuk berdusta mulai muncul, akan tetapi anak takut untuk melakukannya. Anak sudah dapat mempelajari mana yang benar dan salah dan mampu menenangkan diri. Pada usia ini, anak-anak mulai mengungkapkan pilihan atas anak-anak yang akan jadikan sebagai teman bermain dan anak-anak yang tidak mereka suka menjadi teman bermain. Para guru perlu mengetahui struktur hubungan sosial yang terjadi di antara anak-anak di ruang kelas. Peran guru sangat diperlukan untuk membantu anak-anak memahami perasaan anak-anak lain dan mengembangkan rasa hormat terhadap orang lain.
Proses pembelajaran di TK hendaknya diselenggarakan secara menyenangkan, inspiratif, menantang, memotivasi anak untuk berpartisipasi aktif memberi kesempatan untuk berkreasi dan kemandirian sesuai dengan tahap perkembangan fisik dan psikis anak. Oleh karena itu upaya meningkatkan kemampuan bersosialisasi anak sangat penting. Pendidikan merupakan suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antar pribadi. Belajar merupakan proses pribadi dan juga proses sosial ketika anak berhubungan dengan anak lainnya dalam membangun pengertian dan pengetahuan bersama. Sebagai salah satu upaya mengembangkan kemampuan bersosialisasi anak TK, guru dapat menggunakan metode bermain peran. Dengan metode bermain peran diharapkan dapat mengembangkan interaksi sosial anak tentunya dengan menggunakan strategi, materi dan media yang menarik sehingga mudah diikuti oleh anak, karena dengan bermain peran anak akan memiliki kesempatan menjadi pribadi yang lain dari dirinya, maupun tokoh yang diinginkan.
Bermain peran mulai tampak sejalan dengan tumbuhnya kemampuan anak untuk berpikir simbolik. Dalam bermain peran bersama teman-teman sebaya akan menjadi tonggak penting dalam perkembangan sosial anak. Melalui kegiatan sosial diharapkan sifat egosentrisme anak akan semakin berkurang, dan anak secara bertahap berkembang menjadi mahluk sosial yang dapat bergaul dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Kegiatan bermain peran ditandai dengan adanya interaksi dengan orang di sekeliling anak, sehingga akhirnya anak mampu terlibat dalam kerjasama dalam bermain. Metode bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan dan penghayatan anak didik. Bermain peran termasuk salah satu jenis bermain aktif, yang diartikan sebagai pemberian atribut tertentu terhadap benda, situasi dan anak memerankan tokoh yang dipilih. Perilaku yang dilakukan anak ditampilkan dalam setiap tingkah laku yang nyata dan dapat diamati dan biasanya melibatkan penggunaan bahasa. Anak melakukan impersonalisasi terhadap karakter yang dikaguminya atau ditakutinya baik yang ia temui dalam kehidupan sehari-hari maupun dari tokoh yang ia tonton di film. Misalnya peran sebagai pedagang. Anak harus mampu berperan sebagai pedagang sebagaimana yang ia lihat di sekitarnya, misalnya di pasar. Ataupun sebagai pembeli. Melalui peran sebagai pedagang, anak harus dapat berinteraksi dengan orang-orang yang datang untuk membeli dagangannya. Sebagai pedagang harus mampu menawarkan dagangannya sehingga pembeli tertarik untuk membeli dagangannya.
Kegiatan bermain peran jarang  dilakukan di TK Permata Kecamatan Rungkut Surabaya. Para guru biasanya hanya mengobservasi anak yang sedang bermain peran ketika jam istirahat berlangsung, dan tidak pernah memasukkan kegiatan bermain peran ini dalam program pembelajaran. Kalaupun ada, penerapan kegiatan bermain peran di TK lebih dominan dilakukan hanya untuk bermain peran dengan ukuran sebenarnya, seperti anak yang memakai baju dokter atau anak yang berperan sebagai guru. Kegiatan bermain peran ini tampak lebih  efektif untuk digunakan sebagai kegiatan yang dapat meningkatkan keterampilan sosial dan keterampilan berbicara, karena dengan bermain peran melibatkan beberapa anak untuk berinteraksi dan berbicara satu sama lain.
Sejak anak-anak usia TK masalah- masalah bersosialisasi sudah dapat diidentifikasikan dari berbagai perilaku yang ditampakkan anak, diantaranya anak selalu ingin menang sendiri, bersikap agresif, cepat marah, setiap keinginannya selalu harus dituruti, membangkang bahkan menarik diri dari lingkungannya serta tidak mau bergaul dengan teman-temannya. Berdasarkan observasi awal yang dilaksanakan pada awal tahun ajaran baru bulan oktober 2014 di TK Permata Kecamatan Rungkut Surabaya, terutama pada anak TK kelompok A, ditemukan rata-rata kemampuan sosial anak masih sangat rendah, hal ini bisa dilihat ketika anak belum menunjukkan sikap mandiri dalam kegiatan, belum mau berbagi dan membantu teman, belum menunjukkan antusiasme dalam melakukan permainan, belum mampu kerjasaman dan , belum mampu mengendalikan perasaan, menghargai orang lain dan belum bisa menunjukkan rasa percaya diri, hal ini akan berpengaruh pada perkembangan sosialnya.
Permasalahan-permasahan di atas, disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: pembelajaran yang kurang bervariasi, tahapan bermain anak menurut Kurniawati (2008) pada usia 2-4 tahun ditandai dengan bermain khayal dan bermain pura-pura, akan tetapi tahapan bermain tersebut di kelompok A belum berkembang dan belum terstimulus secara optimal, perkembangan anak pada usia ini masih bersifat egosentris seperti berebut mainan, dan ingin mendapatkan perhatian guru untuk dirinya sendiri baik guru maupun teman.
Mencermati fenomena seperti di atas, maka dicoba untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi anak melalui metode bermain peran sebagai upaya  meningkatkan kemampuan bersosialisasi anak sehingga mereka memperoleh sesuatu yang bermakna bagi anak. Bermain peran dapat dilakukan dalam berbagai macam peranan. Seseorang dapat memerankan berbagai peran dalam satu harinya, misalnya sebagai seorang guru, penjual, pembeli, dan sebagainya. Pada setiap peranan tersebut seorang anak harus dapat berperilaku sesuai dengan peran yang dilakukannya. Metode bermain peran biasanya menyampaikan suatu masalah sebelum memberikan pemecahan atas masalah itu. Anak-anak yang memainkan peran itu menunjukkan apa yang akan mereka lakukan, bagaimana reaksi mereka terhadap suatu kejadian atau situasi. Ketidakmampuan anak dalam bersosialisasi akan mengakibat kan anak menjadi pemalu, kurang rasa percaya diri, tidak mampu berkomuni kasi dengan teman, dan memiliki egoisme yang tinggi. Sehubungan dengan itu penelitian ini perlu dilakukan dan hasil penelitian ini akan memberikan informasi pada masyarakat dalam menyikapi anak kurang mampu dalam bersosialisasi. Peneliti tertarik melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui pengaruh penerapan metode bermain peran dalam meningkatkan kemampuan bersosialisasi anak kelompok A di TK Permata Kecamatan Rungkut Surabaya.

PEMBAHASAN

Anak Usia Dini
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangan dalam berbagai aspek sedang mengalami masa yang cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia (Nurani 2009).
Anak usia dini adalah sosok individu yang sedang menjalani suatu proses perkembangan dengan pesat dan fundamental bagi kehidupan selanjutnya. Anak usia dini berada pada rentang usia 0-8 tahun. Pada masa ini proses pertumbuhan dan perkembangannya dalam berbagai aspek sedang mengalami masa cepat dalam rentang perkembangan hidup manusia (Berk, 1992). Proses pembelajaran sebagai bentuk perlakuan yang diberikan pada anak harus memperhatikan karakteristik setiap tahap perkembangan anak.
Montessori dalam Seldin (2004)   menyatakan bahwa pada rentang usia lahir sampai 6 tahun anak mengalami masa keemasan (the golden year) yang merupakan masa di mana anak mulai peka/sensitif untuk menerima berbagai rangsangan. Masa peka adalah masa terjadinya kematangan fungsi fisik dan psikis, anak telah siap merespon stimulasi yang diberikan oleh lingkungan.

Landasan Teori
1.    Konsep Metode Bermain Peran
Metode bermain peran ini dikategorikan sebagai metode belajar yang berumpun kepada metode perilaku yang diterapkan dalam kegiatan pengembangan. Karakteristik nya adalah adanya kecenderungan memecah kan tugas belajar dalam sejumlah perilaku yang berurutan, konkret dan dapat diamati. Bermain peran dikenal juga dengan sebutan bermain pura-pura, khayalan, fantasi, make belive, atau simbolik. Menurut Piaget, awal main peran dapat menjadi bukti perilaku anak. Ia menyatakan bahwa main peran ditandai oleh penerapan cerita pada objek dan mengulang perilaku menyenangkan yang diingatnya. Piaget menyatakan bahwa keterlibatan anak dalam main peran dan upaya anak mencapai tahap yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak lainnya disebut sebagai collective symbolism. Ia juga menerangkan percakapan lisan yang anak lakukan dengan diri sendiri sebagai idiosyncratic soliloquies.

2.    Kemampuan Sosial
Keterampilan sosial merupakan kebutuhan primer yang perlu dimiliki anak-anak sebagai bekal bagi kemandirian pada jenjang kehidupan selanjutnya. Hal ini bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga maupun di lingkungan sekitarnya. Ahmad (Kurniati, 2016) menyebutkan bahwa keterampilan sosial adalah kemampuan anak untuk mereaksi secara efektif dan bermanfaat terhadap lingkungan sosial yang merupakan persyaratan bagi penyesuaian sosial yang baik, kehidupan yang memuaskan, dan dapat diterima masyarakat. Anak yang memiliki keterampilan sosial adalah anak yang menunjukkan perilaku yang disetujui secara sosial oleh kelompoknya. Sedangkan menurut Yuspendi (Kurniati, 2016) keterampilan sosial adalah keterampilan anak untuk dapat membina hubungan antarpribadi dalam beberapa lingkungan kelompok sosial. Sebagai makhluk sosial, individu dituntut untuk mampu mengatasi segala permasalahan yang timbul sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan sosial dan mampu menampilkan diri sesuai dengan aturan atau norma yang berlaku. Oleh karena itu setiap individu dituntut untuk menguasai keterampilan-keterampilan sosial dan penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya (Thalib, 2017).
Keterampilan sosial merupakan bentuk perilaku, perbuatan dan sikap yang ditampilkan oleh individu ketika berinteraksi dengan orang lain disertai dengan ketepatan dan kecepatan sehingga memberikan kenyamanan bagi orang yang berada disekitarnya (Chaplin dalam Suhartini, 2004:18) Peningkatan perilaku sosial cenderung paling menyolok pada masa kanak kanak awal. Hal ini disebabkan oleh pengalaman sosial yang semakin bertambah pada anak-anak mempelajari pandangan pihak lain terhadap perilaku mereka dan bagaimana pemandangan tersebut mempengaruhi tingkatan penerimaan dari kelompok teman sebaya, akan tetapi ada beberapa bentuk perilaku yang tidak sosial atau anti sosial. Sejauh mana terjadinya peningkatan perilaku sosial akan bergantung pada tiga hal. Pertama, seberapa kuat keinginan anak untuk di terima secara sosial; kedua pengetahuan mereka tentang cara memperbaiki perilaku; dan ketiga, kemampuan intelektual yang semakin berkembang yang memungkinkan pemahaman hubungan antara perilaku mereka dengan penerimaan sosial.
Janice J. Beaty (1998: 147) menyebutkan bahwa keterampilan sosial atau disebut juga prosocial behavior mencakup perilaku-perilaku seperti: (a) empati yang didalamnya anakanak mengekspresikan rasa haru dengan memberikan perhatian kepada seseorang yang sedang tertekan karena suatu masalah dan mengungkapkan perasaan orang lain yang sedang mengalami konflik sebagai bentuk bahwa anak menyadari perasaan yang dialami orang lain; (b) kemurahan hati atau kedermawanan di dalamnya anak-anak berbagi dan memberikan suatu barang miliknya pada seseorang; (c) kerjasama yang didalamnya anak-anak mengambil giliran atau bergantian dan menuruti perintah secara sukarela tanpa menimbulkan pertengkaran; dan (d) memberi bantuan yang di dalamnya anak-anak membantu seseorang untuk melengkapi suatu tugas dan membantu seseorang yang membutuhkan.
Yusuf (2007) menyatakan bahwa Perkembangan sosial merupakan pencapaian kematangan dalam hubungan social atau dapat pula diartikan sebagai proses belajar untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma kelompok, moral dan tradisi; meleburkan diri menjadi satu kesatuan dan saling berkomunikasi dan kerja sama. Pada awal manusia dilahirkan belum bersifat sosial, dalam artian belum memiliki kemampuan dalam berinteraksi dengan orang lain. Kemampuan sosial anak diperoleh dari berbagai kesempatan dan pengalaman bergaul dengan orang-orang di lingkungannya. Kebutuhan berinteraksi dengan orang lain telah dirasakan sejak usia 6 bulan, disaat itu mereka telah mampu mengenal manusia lain, terutama ibu dan anggota keluarganya. Anak mulai mampu membedakan arti senyum dan perilaku sosial lain, seperti marah (tidak senang mendengar suara keras) dan kasih sayang.
Menurut Ross-Krasnor (Denham dkk, 2003) mendefinisikan kemampuan social sebagai keefektifan dalam berinteraksi, hasil dari perilaku-perilaku yang teratur memenuhi kebutuhan kebutuhan pada masa perkembangan dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Bagi anak usia dini, perilaku yang menunjukkan kemampuan sosial berkisar pada tugas-tugas utama perkembangan yaitu menjalin ikatan positif dan self regulations selama berinteraksi dengan teman sebaya. Dalam pandangan teoritis kemampuan sosial, terdapat dua fokus pengukuran yaitu pada diri atau orang lain, dalam hal ini adalah mengukur kesuksesan anak dalam memenuhi tujuan pribadi atau hubungan interpersonal anak.
Menurut Buzan (1997), kemampuan sosial adalah ukuran kemampuan diri seseorang dalam pergaulan di masyarakat dan kemampuan berinteraksi sosial dengan orang-orang disekeliling atau sekitarnya. Orang dengan kemampuan sosial tinggi tidak akan menemui kesulitan saat memulai suatu interaksi dengan seseorang atau sebuah kelompok baik kelompok kecil maupun besar. Ia dapat memanfaatkan dan menggunakan kemampuan otak dan bahasa tubuhnya untuk “membaca” teman bicaranya. Kemampuan sosial dibangun antara lain atas kemampuan inti untuk mengenali perbedaan, secara khusus perbedaan besar dalam suasana hati, temperamen, motivasi, dan kehendak. Kemampuan sosial ini juga mencakup kemampuan bernegoisasi, mengatasi segala konflik, segala kesalahan, dan situasi yang timbul dalam proses negoisasi.
Dewasa ini mulai disadari betapa pentingnya peran kecerdasan sosial dan kecerdasan emosi bagi seseorang dalam usahanya meniti karier di masyarakat, lembaga, atau perusahaan. Banyak orang sukses, kalau kita cermati ternyata mereka memiliki kemampuan bekerja sama, berempati, dan pengendalian diri yang menonjol. Kesimpulan bahwa kemampuan sosial adalah kapasitas seseorang dalam berkomunikasi, bergaul, bekerja sama, dan memberi kepada orang lain. Jadi, kemampuan sosial adalah kemampuan anak untuk mengajak maupun merespon teman-temannya dengan perasaan positif, tertarik untuk berteman dengan teman temannya serta diperhatikan dengan baik oleh mereka, dapat memimpin dan juga mengikuti, mempertahan kan sikap memberi dan menerima dalam berinteraksi.

Faktor – faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Sosial Anak
Nurfaizin (1997), menyatakan bahwa kemampuan sosial anak dipengaruhi beberapa faktor,yaitu:
  1. Keluarga. Yakni lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya.
  2. Kematangan. Yakni fisik dan psikis sehingga mampu mempertimbangkan proses sosial, memberi dan menerima nasehat orang lain, memerlukan kematangan intelek tual dan emosional, disamping itu kematangan dalam berbahasa juga sangat menentukan.
  3. Status Sosial Ekonomi. Yakni kehidupan sosial banyak dipenga ruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga dalam masyarakat.
  4. Pendidikan. Yakni proses pengo perasian ilmu yang normatif, anak memberikan warna kehidupan sosial anak didalam masyarakat dan kehidupan mereka dimasa yang akan datang.
  5. Kapasitas Mental. Yakni emosi dan Intelegensi. Kemampuan berfikir dapat mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Perkembangan emosi berpengaruh sekali terhadap perkembangan sosial anak.
Cara meningkatkan keterampilan sosial
Buzan (1997), menyataan saat seseorang menunjukan tanda-tanda ketertarikan dan ingin mengenal kita lebih dalam, kitapun dapat tertarik dan bersikap baik padanya. Cara terbaik, termudah, dan paling efektif untuk menunjukan kita tertarik pada sesorang adalah bersedia ‘mendengarkan’ apapun yang diucapkanya. Mendengarkan disini berbeda dengan sekedar mendengar. Mendengarkan artinya kita mendengarkan apa keluhannya, apa ide-idenya, harapan-harapannya, pera-  saan-perasaan yang terlontarkan, bahkan juga bahasa tubuhnya. Itulah yang dinamakan “mendengarkan aktif”. Ingatlah bahwa kita dikaruniai satu mulut dan dua telinga, kita perlu cepat untuk mendengar dan lambat berkatakata. Artinya, kita perlu lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Amstrong (1993; 2002), kemampuan sosial melibatkan kemampuan untuk memahami dan bekerjasama dengan orang lain. Kemampuan ini melibatkan banyak kecakapan, yakni kemampuan berempati pada orang lain, kemampuan berorganisasi sekelompok orang menuju ketujuan bersama, kemampuan mengenali dan membaca pikiran orang lain, kemampuan berteman atau menjalin kontak. Sedangkan, Gardner (1993), kemampuan sosial dibangun, antara lain, oleh kemampuan inti untuk mengenali perbedaan, khususnya perbedaan besar dalam suasana hati, temperamen, motivasi, dan intensi (maksud).

Isenberg & Jalongo (1993), mengatakan bahwa kemampuan sosial dapat diasah melalui bermain. Selama bermain itu, anak-anak berinteraksi dengan sebaya dan guru mereka. Pengasahan itu terjadi karena anak:
1.    Mempraktekkan keterampilan berkomuni- kasi baik verbal maupun nonverbal dengan cara menegosiasikan peran, mencoba memperoleh keuntungan saat bermain atau mengapresiasikan perasaan teman lain;
2.    Merespon perasaan teman sepermainan di samping menunggu giliran dan berbagi materi dan pengalaman;
3.    Bereksperimen dengan peran-peran di rumah, sekolah dan komunitas dengan menjalin kontak dengan kebutuhan dan kehendak orang lain;
4.    Mencoba melihat sudut pandang orang lain. dengan konflik tentang ruang, waktu, materi, dan aturan, mereka membangun strategi resolusi konflik secara positif.
Anak yang cerdas dalam sosial pandai mengorganisasi teman-teman mereka dan pandai mengkomuni kasikan keinginannya pada orang lain. Mereka sering menjadi pemimpin di antara teman-temannya. Mereka memiliki kemahiran mendamaikan konflik dan menyelaraskan perasaan orang-orang yang terlibat konflik. Mereka mudah mengerti sudut pandang orang lain, dan dengan relatif akurat, mampu menebak suasana hati dan motivasi pribadi orang lain. Selain itu, menurut Schmidt (2001), anak-anak yang cerdas secara interpersonal merupakan individu yang cinta damai. Mereka adalah pengamat dan motivator yang baik.
Amstrong (1993), menyatakan anak-anak yang cerdas dalam sosial akan mempunyai banyak teman. Mereka juga mudah bersosialisasi serta senang terlibat dalam kegiatan atau kerja kelompok. Mereka menikmati permainan-permainan yang dilakukan secara berpasangan atau berkelompok. Mereka suka memberikan apa yang dimiliki dan diketahui kepada orang lain. Mereka tampak menikmati ketika mengajari teman sebaya mereka tentang sesuatu, seperti membuat gambar, memilih warna, atau bahkan cara bersikap.
Karl Albrecht (2001), menyebut adanya lima elemen kunci yang bisa mengasah kemampuan sosial yaitu (1) Situational awareness, (2) Presense, (3) Authenticity, (4) clarity dan (5) empathy , yang ia singkat menjadi kata SPACEElemen pertama ialah kata S merujuk pada kata situational awareness (kesadaran situasional). Makna dari kesadaran ini adalah sebuah kehendak untuk bisa memahami dan peka akan kebutuhan serta hak orang lain. Orang yang tanpa rasa dosa mengeluarkan merokok di ruang AC atau di ruang terbuka dan menghembus- kan asap secara serampangan pada semua orang disekitarnya pastilah bukan tipe orang yang paham akan makna kesadaran situasional. Elemen yang kedua adalah presense (kemampuan membawa diri). Bagaimana etika penampilan Anda, tutur kata dan sapa yang Anda bentangkan, gerak tubuh ketika bicara dan mendengarkan adalah sejumlah aspek yang tercakup dalam elemen ini. Setiap orang pasti akan meninggalkan impresi yang berlainan tentang mutu presense yang dihadirkannya. Anda mungkin bisa mengingat siapa rekan atau atasan anda yang memiliki kualitas presense yang baik dan mana yang buruk. Elemen yang ketiga adalah authenticity (autensitas) atau sinyal dari perilaku kita yangakan membuat orang lain menilai kita sebagai orang yang layak dipercaya (trusted), jujur, terbuka, dan mampu menghadirkan sejumput ketulusan. Elemen ini amat penting sebab hanya dengan aspek inilah kita bisa membentangkan berjejak relasi yang mulia nan bermartabat. Elemen yang keempat adalah clarity (kejelasan) yakni sejauh mana kita dibekali kemampuan untuk menyampaikan gagasan dan ide kita secara renyah nan persuasif sehingga orang lain bisa menerimanya dengan tangan terbuka. Acap kita memiliki gagasan yang baik, namun gagal mengkomunikasikannya secara cantik sehingga atasan atau rekan kerja kita tidak berhasil diyakinkan. Elemen yang terakhir adalah empathy (empati). Aspek ini merujuk pada sejauh mana kita bisa berempati pada pandangan dan gagasan orang lain.

Metode
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen kuasi (semu), dimaksudkan untuk mengetahui dan meneliti peningkatan kemampuan social anak usia dini di TK Aisyiyah 6 Tanggulangin, baik bagi mereka yang tidak diberikan perlakuan maupun bagi mereka yang diberikan perlakuan yakni perlakuan bermain peran. Rancangan eksperimen ini bertipe kelompok paralel, yaitu eksperimen yang mengenal dua kelompok, satu diantaranya diberikan perlakuan eksperimen. Dua kelompok dianggap sama dalam semua aspek yang relevan dan perbedaan hanya terdapat dalam perlakuan. Dalam pola ini baik kelompok eksperimen maupun kelompok pembanding dikenakan tes sebelum dan sesudah diberikan perlakuan (treatmen), tapi hanya kelompok eksperimen yang mendapat pelakuan, Menurut Sukmadinata (2006) dengan struktur desainnya yang telah dimodifikasi oleh peneliti sehingga menjadi sebagai berikut:
Tabel 1. Prates dan Pasca Tes Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Kelompok
Pra Tes
Perlakuan
Pasca Tes
E(eksperimen)
T1
X
T2
C(kontrol)
T1
-
T2

Dengan pola ini pengaruh perlakuan X diamati dalam situasi yang lebih terkontrol yaitu dengan membandingkan selisih T1 – T2 pada kelompok eksperimen dengan selisih T1 – T2 pada kelompok pembanding. Populasi adalah keseluruhan atau totalitas objek yang diteliti yang ciri-ciri (parameternya) akan diduga atau ditaksir (estimated). Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia dini di TK Aisyiyah 6 Tanggulangin, 40 anak yang terbagi dalam dua kelas kelompok B. Sampel adalah bagian dari populasi yang menjadi objek penelitian. Tujuan pengambilan sampel dapat dapat memberikan informasi yang cukup untuk dapat mengestimasi jumlah populasinya. Adapun teknik sampel yang digunakan adalah teknik random sampling sehingga ditarik sampel dengan cara undian didapatlah sebanyak 20 orang anak untuk kelompok eksperimen (B1) dan 20 orang anak untuk kelompok kontrol (B2). Adapun definisi secara operasional terhadap penelitian di atas adalah sebagai berikut:
1.      Bermain peran adalah salah satu metode yang memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan imajinasinya dalam memerankan seorang tokoh agar mereka menghayati sifat dari tokoh atau benda.
2.      Kemampuan sosial adalah kemampuan anak untuk mengajak maupun merespon teman-temannya dengan perasaan positif, tetarik untuk berteman dengan teman temannya serta diperhatikan dengan baik
oleh mereka, dapat memimpin dan juga mengikuti, mempertahankan sikap memberi dan menerima dalam berinteraksi.

Teknik yang dipakai dalam pengumpulan data penelitian ini adalah:
1.    Observasi digunakan untuk mengamati secara langsung segala aktivitas anak usia dini selama proses penelitian berlangsung baik sebelum maupun sesudah pemberian perlakuan bermain peran.
2.    Tes kemampuan sosial buatan peneliti digunakan untuk mendapat kan data tentang pengembangan kemampuan sosial anak usia dini, baik sebelum maupun sesudah diberikan perlakuan berupa perlakuan bermain peran.
3.    Angket dimaksudkan adanya data dari beberapa pihak baik tentang signifikansi stimuli sebelum maupun sesudah pemberian perlakuan bermain peran. Adapun angket ini menggunakan pendekatan skala likert dengan lima ketegori dengan pemberian bobot nilai. Penentuan kriteria/ kategori tingkat penguasaan atau kemampuan sosial anak usia dini pada saat diberikan perlakuan bermain peran dan tidak diberikan perlakuan sebagai berikut:
a.    Nilai 0-3,4 kategori sangat rendah (SR)
b.    Nilai 3,5-5,4 kategori rendah (R)
c.    Nilai 5,5-6,4 kategori sedang (S)
d.    Nilai 6,5-8,4 kategori tinggi (T)
e.    Nilai 8,5-10,0 kategori sangat tinggi (ST).
Adapun instrumen tes yang digunakan terdiri dari tes perlakuan dengan memberikan pembelajaran dengan bermain peran terhadap kemampuan sosial anak. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif-kuantitatif dengan perhitungan distribusi frekuensi dan persentase melalui tabel skor yang diperoleh responden selama penelitian dengan tujuan mengetahui gambaran kemampuan sosial anak usia dini melalui pembelajaran bermain peran dan metode pembelajaran tanpa bermain peran yang hanya bermain sambil belajar selama proses pembelajaran berlangsung, dengan melihat Statistik ukuran pemusatan yaitu rata-rata  mean, dan ukuran penyebaran yaitu standar deviasi, nilai minimum dan maksimum kemudian dilanjutkan dengan distribusi frekuensi dan persentase. Untuk mengetahui besarnya pengaruh antara metode pembelajaran bermain peran untuk kelompok eksperimen dan metode pembelajaran tanpa bermain peran dengan hanya bermain sambil belajar sebagai kelompok kontrol terhadap kemampuan sosial anak usia dini di TK Aisyiyah 6 Tanggulangin. Karena data ini tergolong sedikit dan hanya berdistribusi bebas, maka digunakan uji non parametrik dengan teknik analisis uji Mann- Whitney Test dengan melihat dua sisi pengaruh antara anak usia dini yang diberikan perlakuan bermain peran kemudian dibandingkan kemampuan sosial anak usia dini yang tidak diberi perlakuan bermain peran, dengan asumsi bahwa jika terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan sosial pada kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan dan kelompok kontrol yang tidak diberikan perlakuan, maka perbedaaan itu dianggap sebagai pengaruh dari perlakuan yang diberikan. dan semua ini akan terangkum dalam program SPSS 15, dengan taraf signifikan 0,05%.
Sebelum dilakukan pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan pengujian normalitas data menurut Santoso, 2006 (dalam Sujianto, 2007: 72), normalitas data bisa dideteksi dari rasio skewness, rasio kurtosis, histogram, Kolmogorov-Smirnov pada setiap variabel, sedangkan pengujian outokorelasi menggunakan korelasi bivariate pearson, dan jika kedua pengujian tersebut terpenuhi maka selanjutnya pengujian linieritas data dengan menggunakan gambar linieritas dengan chart P- Plot.
Hasil analisis deskriptif dan analisis uji Mann-Whitney Test tersebut di atas dapat ditelusuri beberapa permasalahan sehingga olahan data yang tersedia dan dihubungkan dengan teori melalui analisis kuantitatif. Dari hasil olahan data seperti yang dikemukakan pada bagian sebelumnya, diperoleh informasi bahwa metode pembelajaran bermain peran yang dilakukan anak usia dini terhadap kemampuan sosialnya sangat tinggi. 
Sejalan dengan teori Ross-Krasnor (Denham dkk, 2003) mendefinisikan kemampuan sosial sebagai keefektifan dalam berinteraksi, hasil dari perilaku-perilaku yang teratur memenuhi kebutuhan-kebutuhan pada masa perkembangan dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Bagi anak usia dini, perilaku yang menunjukkan kemampuan sosial berkisar pada tugas-tugas utama perkembangan yaitu menjalin ikatan positif dan self regulations selama berinteraksi dengan teman sebaya. Dalam pandangan teoritis kemampuan sosial, terdapat dua fokus pengukuran yaitu pada diri atau orang lain, dalam hal ini adalah mengukur kesuksesan anak dalam memenuhi tujuan pribadi atau hubungan interpersonal anak.
Berdasarkan teori tersebut di atas dapat melahirkan implikasi teoritis bahwa pengetahuan sosial, rasa empati dan rasa percaya diri anak-anak menjadi terukur. Anakanak yang memiliki pengetahuan sosial yang tinggi cenderung mudah memahami perasaan orang lain. Mereka sering menjadi pemimpin di antara teman-temannya. Anak yang cerdas dalam sosial pandai mengorganisasi teman-teman mereka dan pandai mengkomunikasikan keinginannya pada orang lain. Mereka memiliki kemahiran mendamaikan konflik dan menyelaraskan perasaan orang-orang yang terlibat konflik. Mereka mudah mengerti sudut pandang orang lain, dan dengan relatif akurat, mampu menebak suasana hati dan motivasi pribadi orang lain. Sejalan dengan teori Schmidt (2001), anak-anak yang cerdas secara interpersonal merupakan individu yang cinta damai. Mereka adalah pengamat dan motivator yang baik. Selanjutnya pendapat Amstrong (1993), anak-anak yang cerdas dalam sosial mempunyai banyak teman. Mereka juga mudah bersosia- lisasi serta senang terlibat dalam kegiatan atau kerja kelompok. Mereka menikmati permainan-permainan yang dilakukan secara berpasangan atau berkelompok. Mereka suka memberi kan apa yang dimiliki dan diketahui kepada orang lain, termasuk masalah ilmu dan informasi. Mereka tampak menikmati ketika mengajari teman sebaya mereka tentang sesuatu, seperti membuat gambar, memilih warna, atau bahkan cara bersikap sehingga nampak kepercayaan diri anakpun semakin lebih baik.

Kesimpulan
Penelitian tentang penerapan metode bermain peran untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi pada pendidikan anak usia dini adalah salah satu penelitian yang penting untuk diterapkan, karena keterampilan hidup yang mendasar dan perlu dilatih semenjak usia dini bagi setiap individu. Perkembangan sosial anak ditandai oleh kemampuan dalam menyesuaikan diri dan mengembangkan tingkah laku sosialnya sehingga dapat bersosialisasi dengan baik.
Selain itu, kelompok eksperimen dengan perlakuan bermain peran jauh lebih baik dibanding kelompok kontrol yang tanpa perlakuan bermain peran terhadap kemampuan sosial anak usia dini di taman kanak- kanak (TK).
Saran
Bagi para pengajar ada banyak metode pembelajaran yang berkembang saat ini yang bisa diterapkan di sebuah lembaga pendidikan untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi namun kesiapan untuk menerapkan sebuah metode belajar terutama metode bermain peran harus sangat diperhatikan karena penerapan metode belajar yang kurang maksimal berdampak pada hasil yang kurang optimal pada anak. Persiapan ini meliputi kecakapan dari guru untuk menerapkan metode ini dengan prosedur yang sesuai. Selain itu, metode pembelajaran bermain peran banyak memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan sosial anak usia dini, untuk itu diharapkan para pembina dan para guru taman kanak-kanak dapat menerapkan metode pembelajaran bermain peran dalam mengaplikasikan saat proses pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA
Choirun Nisak Aulina. “PENGARUH BERMAIN PERAN TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN SOSIAL ANAK USIA DINI.” 2014 1, no. 1 (n.d.): 14–27.
Listya Istiningtyas, Alhamdu, Chintia Viranda. “BERMAIN PERAN (ROLE PLAY) DAN PENINGKATAN KETERAMPILAN SOSIAL ANAK USIA DINI.” 2019 8, no. 1 (n.d.): 1–8.
Rr. Amanda Pasca Rini, Nurul Aida. “PENERAPAN METODE BERMAIN PERAN UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERSOSIALISASI PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI.” 2015 4, no. 01 (n.d.): 87–99.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar